Jumat, 12 Juni 2015

Potensi dari Tanjung Puting

1.      Ekosistem
a)      Iklim
Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting beriklim ekuatorial. Suhu maksimum berkisar antara 31-33oC, sedangkan suhu minimum berkisar antara 18‑21oC. Suhu terendah biasanya terjadi bersamaan dengan musim kemarau, antara bulan Juli-September.Curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun dengan kelembaban nisbi berkisar antara 55 s/d 98%.
b)      Tanah
Pada umumnya, tanah di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting kurang subur dan hanya mampu mendukung usaha pertanian yang bersifat temporer. Semua tanah bersifat sangat asam dengan pH antara 3,8-5,0. Di rawa‑rawa daerah hulu, tanah memiliki kandungan unsur organik yang lebih tinggi dan formasi gambut tersebar luas dengan ketebalan sampai 2 meter.
c)      Geologi
Tanjung Puting, relatif berumur geologi muda. Daerah berawa‑rawa datar yang meluas ke pedalaman, sekitar 5-20 km dari pantai, mungkin hanya berumur ratusan sampai ribuan tahun saja. Sebagian besar sedimen tanah/lumpur adalah alluvial muda.
d)      Topografi
Secara umum, topografi TNTP adalah datar sampai bergelombang dengan ketinggian 0 meterdari permukaan laut. Di bagian utara, terdapat beberapa punggung pegunungan yang rendah dan bergelombang, serta umumnya mengarah ke selatan. Akan tetapi, di sebelah selatan Sungai Sekonyer tidak terdapat pegunungan atau bukit.




Sungai Sekonyer

2.    Flora
Tumbuhan endemik di Tanjung Puting ini adalah kayu ulin atau yg dikenal dengan kayu besi, kayu ini hanya terdapat di pulau Kalimantan. Kayu ulin ini banyak terdapat di Tanjung Puting. yang membuat terkenal Kayu ulin atau Besi ini adalah jenis kayu yg paling kuat diantara semua jenis kayu,karena kayu ini dapat bertahan di segala medan cuaca.

Jenis‑jenis flora utama di daerah utara kawasan ini adalah hutan kerangas dan tumbuhan pemakan serangga seperti kantung semar (Nephentes sp). Hutan rawa gambut sejati ditemukan di bagian tengah kawasan dan di tepi beberapa sungai.

Di daerah utara menuju selatan kawasan terdapat padang dengan jenis tumbuhan belukar yang luas. Tumbuhan di daerah hulu sungai utama terdiri atas rawa rumput yang didominasi oleh Pandanus sp dan bentangan makrofita (bakung) yang mengapung,di daerah pantai meliputi hutan bakau (mangrove) dan lebih jauh ke daratan yaitu di kawasan payau pada muara‑muara sepanjang sungai utama, terdapat tumbuhan asli nipah. Untuk daerah pesisir pantai berpasir, banyak ditumbuhi tumbuhan marga Casuorina, Pandanus, Podocarpus, Scaevola, dan Barringtonic.
Jenis‑jenis tumbuhan lain yang dapat ditemui di TNTP adalah meranti (Shorea sp), ramin (Gonystylus banconus),  jelutung (Dyera costulatc), gaharu, kayu lanan, keruing rawa(Dipterocarpussp), ulin (Eusideroxylon zwogeri), Tengkawang (Drocomentelos sp), dll.
3.    Fauna
a)    Orangutan
Orangutan merupakan jenis primata yang begitu populer di TNTP. Hal tersebut terkait dengan predikatnya sebagai hewan langka yang dilindungi.


b)      Bekantan (Kera Belanda)
Jenis Primata ini merupakan hewan Endemik Kalimantan, hidup atau dapat dijumpai hanya di pulau ini serta Pulau Laut yang letaknya sangat dekat dengan Pulau Kalimantan. Di
TNTP, bekantan hidup terbatas pada habitat hutan rawa gambut dan hutan tanah kering di tepian atau sepanjang sungai serta di hutan nipah‑bakau. Pada siang hari, bekantan mencari makan sampai sejauh 1,5 km dari sungai, namun pada malam hari mereka tidur di pepohonan. Bekantan adalah primata pemakan daun‑daunan dan buah‑buahan. Mereka memakan daun-­daun mucia dan biji buah‑buahan yang belum masak dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka hidup dalam kelompok yang terdiri dari 3‑23 ekor.
c)      Kera Ekor Panjang
Habitat dari kera ekor panjang di Tanjung Puting terbatas pada hutan rawa gambut dan hutan tanah kering yang berada di tepian atau sepanjang sungai‑sungai besar serta hutan nipah‑bakau sepanjang pantai. Satwa yang mudah beradaptasi ini hidup secara bergerombol dengan “pasukan” Monyet jantan serta berjumlah sekitar 12‑30 ekor perkelompok.
d)     Owa-Owa
Secara keseluruhan, sifat adaptasi dari kerabat owa adalah sangat khas dan hampir sama sekali tidak menyerupai sifat adaptasi Monyet atau Kera lainnya. Di manapun owa dijumpai, mereka secara eksklusif mempunyai teritori di tempat yang tinggi, serta hidup dalam kelompok‑kelompok keluarga yang kecil yang terdiri dari jantan dewasa, betina dewasa, dan anak‑anak yang masih bergantung pada induknya. Owa juga sangat rapuh terhadap rusaknya habitat, terutama karena mereka tidak mungkin meninggalkan habitatnya sampai areal tersebut benar‑benar rusak.
e)      Burung
Jenis Burung yang paling penting di TNTP adalah Sindanglawe (storm’s stork, Ciconia stormii), yang dinyatakan termasuk dari 20 jenis burung bangau yang paling langka di dunia (Hancock, Kushion and Kohl, 7992) serta dimasukkan ke dalam kategori terancam kepunahan oleh ILICK. Dibanding dengan kawasan lain di Indonesia yang terdapat burung ini, Tanjung Puting mungkin dapat dikatakan yang memiliki densitas paling besar. Sifat ekologis burung ini sangat mirip dengan bangau hitam (Ciconic nigra). Dan burung-burung lainnya.
f)             Hewan-hewan lainnya yang kurang populer di TNTP. Seperti: buaya yang berada di sungai Sekonyer (salah satu alasan kenapa wisatawan tidak diperbolehkan mandi), ikan, ular, serta serangga. Dan hewan-hewan lainnya.


0 komentar:

Posting Komentar