1. Ekosistem
a)
Iklim
Kawasan Taman
Nasional Tanjung Puting beriklim ekuatorial. Suhu maksimum berkisar antara 31-33oC,
sedangkan suhu minimum berkisar antara 18‑21oC. Suhu terendah biasanya terjadi
bersamaan dengan musim kemarau, antara bulan Juli-September.Curah hujan
berkisar antara 2000-3000 mm/tahun dengan kelembaban nisbi berkisar antara 55
s/d 98%.
b)
Tanah
Pada umumnya,
tanah di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting kurang subur dan hanya mampu
mendukung usaha pertanian yang bersifat temporer. Semua tanah bersifat sangat
asam dengan pH antara 3,8-5,0. Di rawa‑rawa daerah hulu, tanah memiliki
kandungan unsur organik yang lebih tinggi dan formasi gambut tersebar luas
dengan ketebalan sampai 2 meter.
c)
Geologi
Tanjung Puting,
relatif berumur geologi muda. Daerah berawa‑rawa datar yang meluas ke
pedalaman, sekitar 5-20 km dari pantai, mungkin hanya berumur ratusan sampai
ribuan tahun saja. Sebagian besar sedimen tanah/lumpur adalah alluvial muda.
d)
Topografi
Secara umum,
topografi TNTP adalah datar sampai bergelombang dengan ketinggian 0 meterdari
permukaan laut. Di bagian utara, terdapat beberapa punggung pegunungan yang
rendah dan bergelombang, serta umumnya mengarah ke selatan. Akan tetapi, di
sebelah selatan Sungai Sekonyer tidak terdapat pegunungan atau bukit.
Sungai Sekonyer
2. Flora
Tumbuhan endemik di Tanjung Puting
ini adalah kayu ulin atau yg dikenal dengan kayu besi, kayu ini hanya terdapat
di pulau Kalimantan. Kayu ulin ini banyak terdapat di Tanjung Puting. yang
membuat terkenal Kayu ulin atau Besi ini adalah jenis kayu yg paling kuat
diantara semua jenis kayu,karena kayu ini dapat bertahan di segala medan cuaca.
Jenis‑jenis flora utama di daerah utara kawasan ini
adalah hutan kerangas dan tumbuhan pemakan serangga seperti kantung semar (Nephentes
sp). Hutan rawa gambut sejati ditemukan di bagian tengah kawasan dan di
tepi beberapa sungai.
Di daerah utara menuju selatan kawasan terdapat padang
dengan jenis tumbuhan belukar yang luas. Tumbuhan di daerah hulu sungai utama
terdiri atas rawa rumput yang didominasi oleh Pandanus sp dan bentangan makrofita
(bakung) yang mengapung,di daerah pantai meliputi hutan bakau (mangrove)
dan lebih jauh ke daratan yaitu di kawasan payau pada muara‑muara sepanjang
sungai utama, terdapat tumbuhan asli nipah. Untuk daerah pesisir pantai
berpasir, banyak ditumbuhi tumbuhan marga Casuorina, Pandanus, Podocarpus, Scaevola, dan Barringtonic.
Jenis‑jenis tumbuhan lain yang dapat ditemui di TNTP
adalah meranti (Shorea sp), ramin (Gonystylus banconus), jelutung (Dyera costulatc),
gaharu, kayu lanan, keruing rawa(Dipterocarpussp), ulin (Eusideroxylon
zwogeri), Tengkawang (Drocomentelos sp), dll.
3. Fauna
a) Orangutan
Orangutan merupakan jenis primata
yang begitu populer di TNTP. Hal tersebut terkait dengan predikatnya sebagai
hewan langka yang dilindungi.
b)
Bekantan (Kera
Belanda)
Jenis Primata ini merupakan hewan Endemik Kalimantan, hidup atau dapat
dijumpai hanya di pulau ini serta Pulau Laut yang letaknya sangat dekat dengan
Pulau Kalimantan. Di
TNTP, bekantan
hidup terbatas pada habitat hutan rawa gambut dan hutan tanah kering di tepian
atau sepanjang sungai serta di hutan nipah‑bakau. Pada siang hari, bekantan
mencari makan sampai sejauh 1,5 km dari sungai, namun pada malam hari mereka
tidur di pepohonan. Bekantan adalah primata pemakan daun‑daunan dan buah‑buahan.
Mereka memakan daun-daun mucia dan biji buah‑buahan yang belum masak dalam
jumlah yang sangat banyak. Mereka hidup dalam kelompok yang terdiri dari 3‑23
ekor.
c)
Kera Ekor
Panjang
Habitat dari kera ekor panjang di Tanjung Puting terbatas pada hutan rawa
gambut dan hutan tanah kering yang berada di tepian atau sepanjang sungai‑sungai
besar serta hutan nipah‑bakau sepanjang pantai. Satwa yang mudah beradaptasi
ini hidup secara bergerombol dengan “pasukan” Monyet jantan serta berjumlah sekitar
12‑30 ekor perkelompok.
d)
Owa-Owa
Secara keseluruhan, sifat adaptasi dari kerabat owa adalah sangat khas dan
hampir sama sekali tidak menyerupai sifat adaptasi Monyet atau Kera lainnya. Di
manapun owa dijumpai, mereka secara eksklusif mempunyai teritori di tempat yang
tinggi, serta hidup dalam kelompok‑kelompok keluarga yang kecil yang terdiri
dari jantan dewasa, betina dewasa, dan anak‑anak yang masih bergantung pada
induknya. Owa juga sangat rapuh terhadap rusaknya habitat, terutama karena
mereka tidak mungkin meninggalkan habitatnya sampai areal tersebut benar‑benar
rusak.
e)
Burung
Jenis Burung yang paling penting di TNTP adalah Sindanglawe (storm’s stork,
Ciconia stormii), yang dinyatakan termasuk dari 20 jenis burung bangau
yang paling langka di dunia (Hancock, Kushion and Kohl, 7992) serta
dimasukkan ke dalam kategori terancam kepunahan oleh ILICK. Dibanding dengan
kawasan lain di Indonesia yang terdapat burung ini, Tanjung Puting mungkin
dapat dikatakan yang memiliki densitas paling besar. Sifat ekologis burung ini
sangat mirip dengan bangau hitam (Ciconic nigra). Dan burung-burung
lainnya.
f)
Hewan-hewan lainnya yang kurang populer
di TNTP. Seperti: buaya yang berada di sungai Sekonyer (salah satu alasan
kenapa wisatawan tidak diperbolehkan mandi), ikan, ular, serta serangga. Dan hewan-hewan
lainnya.





0 komentar:
Posting Komentar